Posts

Showing posts from November, 2016

EMAK NAIK ONTA

Mak, aku tulis sajak ini sementara kau mengelilingi Ka‘bah saat itu pula gelisah sering bertamu ke gubuk kita entah mencari siapa barangkali peristiwa yang terjadi masih menghantui perjalananmu Mak. Mak ,kau kenakan Ihram aku kenakan kerinduanku Suara yang memanggilmu seketika menghilangkan rasa sakit dilenganmu Angia berhembus, debu yang menyapu Doa-doa yang kau bawa jangan kau simpan, wajib kau adukan. Siapa yang diam kala rindu digerogoti waktu ? Kau kumpulkan niatmu Tak usah risau, gelisah dan galau aku hanya singgah dibeberpa pulau, nasib namanya Sementara sumur masih hening dan airnya masih tetap bening Mak. Mak, kehidupan mesti seperti lingkaran Ujungnya saling bertemu dan menemukan Disana jawaban saling bertegur sapa, siapa harus menjawab yang mana. Aku berlari mencarimu Mak.’ Hutan yang sunyi aku kunjungi Gunung yang merenung terpaksa aku daki Diantara lembah yang sembahyang Airmata menjadi petanda bahwa hari ini aku rindu dip...

MERPATI POS

Burung merpati berwarna putih Merintih sayapnya patah Burung merpati pengantar pesan Bulunya berhamburan meninggalkan kesan dan pertanyaan tentang kehidupan. Suara yang menyeru Darahnya berceceran menghiasi dingding kota Ia lupa dikabarkan bahwa hidup sudah mencekam karena penyakit ketakutan. Dalam batang pohon, dalam sangkar ribuan kesaksian diam dan dierami berbulan-bulan. Langit jengah Bumi mengeluh Dimana penyelamatan ? Dimana kehendak Tuhan ? Burung merpati berwajah murung merintih dalam kurung Sarangnya palsu, nyanyiannya keliru Ia tak lagi terbang sebab sayapnya dipatahkan kumbang Kumbang yang bersarang di Taman penuh kesunyian Lalu siapa yang menghiasai cakrawala ? Senaja berduka , awan murka sepertinya dunia sepi dari tawa. Oh merpati pos Anak panah dan peluru tak bertuan membawamu pada pengaduan, kau berharap pengampunan, mencari keadilan, sementara tuan-tuan memandikan tubuhmu denga racun kehidupan Kandangmu adalah...

ENTAH SIAPA

Sajak ini lahir dari kekosongan Tergerak ketika membicarakan sunyi sebagai puncak segalanya Sajak ini aku kirim sebagai temanmu Diantara pertanyaan itu, kita sama-sama lupa dan gemar berbuat dosa Sampai tanah yang dipijak adalah alasan mengapa ketidakwarasan menghampiri dan kau menyulam kekeliruan menjadi alasan dijenguk kemerdekaan. Bandung ,19-11-2016