UNTUK YANG MENJADI PUI
Kutulis surat ini untukmu,
saat hati terbelah tak menemukan lagi rasa.
Mata-mata banyak bertanya.
Berkarat setiap indra kita, berkarat pula nafas kita memahami cinta.
Kita harus kembali jujur, merajut kembali apa yang retak.
Mata-mata banyak bertanya.
Berkarat setiap indra kita, berkarat pula nafas kita memahami cinta.
Kita harus kembali jujur, merajut kembali apa yang retak.
Kita menulis usia dengan darah,
menipu setiap kesaksian dengan nanah.
Lalu kemerdekaan kita siapa yang mengantarkan?
Wajah-wajah basah
Rambut-rambut basah
Sukma kita perlu diselamatkan, karena lihatlah saudaraku :
Makhluk Tuhan lainnya menunggu dicintai.
Inilah janji.
Inilah Khotbah.
Gelap dan berat.
Karena kehidupan mengurai kesengsaraan yang tak terhitung jumlahnya.
Tetapi sayang, kita tak mampu menambal luka-duka.
Kita hanya kosong, menyaksikan waktu melakukan tugasnya tanpa kesalahan.
menipu setiap kesaksian dengan nanah.
Lalu kemerdekaan kita siapa yang mengantarkan?
Wajah-wajah basah
Rambut-rambut basah
Sukma kita perlu diselamatkan, karena lihatlah saudaraku :
Makhluk Tuhan lainnya menunggu dicintai.
Inilah janji.
Inilah Khotbah.
Gelap dan berat.
Karena kehidupan mengurai kesengsaraan yang tak terhitung jumlahnya.
Tetapi sayang, kita tak mampu menambal luka-duka.
Kita hanya kosong, menyaksikan waktu melakukan tugasnya tanpa kesalahan.
Lipat lagi pisau yang penuh misteri.
Gantilah dengan sesuatu yang lebih halus,
sebab rencana hanya membuat kita terjaga dari puisi ini menuju puisi lainnya saudaraku.
Gantilah dengan sesuatu yang lebih halus,
sebab rencana hanya membuat kita terjaga dari puisi ini menuju puisi lainnya saudaraku.
Resapilah sebentar aroma pengkhianatan.
Tutuplah mata, maka kebijaksanaan itu benar adanya, kebaikan itu tepat tujuannya dan begitu pula dengan kecintaan kita saudaraku, hanya menjadi lumut di musim semi.
Bacalah saudaraku!
Diantara batu-batu yang menjepit.
Ada marah serta dendamku.
Ada airmata dan dukaku.
Sayang, puisi ini menegaskan kematian hanya sejengkal dari keinginan memiliki makna dari cinta.
Tutuplah mata, maka kebijaksanaan itu benar adanya, kebaikan itu tepat tujuannya dan begitu pula dengan kecintaan kita saudaraku, hanya menjadi lumut di musim semi.
Bacalah saudaraku!
Diantara batu-batu yang menjepit.
Ada marah serta dendamku.
Ada airmata dan dukaku.
Sayang, puisi ini menegaskan kematian hanya sejengkal dari keinginan memiliki makna dari cinta.
Kukirim surat ini sebagai petanda.
Saat petir menjilat bumi.
Saat sebongkah kayu bakar telah menghanguskan sabarku.
Izinkan aku menuliskan kemenangan di keningmu dan meminum anggur di pesta perpisahan.
Bacalah setiap hari saudaraku,
saat ramai ataupun sepi.
Dalam gelisah, dendam ini akan kurawat saudaraku.
Sampai kita sadar bahwa dunia adalah api yang kita biarkan terus menyala.
Saat petir menjilat bumi.
Saat sebongkah kayu bakar telah menghanguskan sabarku.
Izinkan aku menuliskan kemenangan di keningmu dan meminum anggur di pesta perpisahan.
Bacalah setiap hari saudaraku,
saat ramai ataupun sepi.
Dalam gelisah, dendam ini akan kurawat saudaraku.
Sampai kita sadar bahwa dunia adalah api yang kita biarkan terus menyala.
Bandung, 30-01-2017
*untuk teman, saudara dan kekasih..
Comments
Post a Comment