DI PENGHUJUNG TAHUN
Tahun-tahun berlalu adalah pekik revolusi yang gagap mengenyam musim tanpa jerit.
Matahari terik tanah kering, kedamaian habis terserap.
Dalam potret pencitraan para pelukis menghabiskan kanvasnya menggambar bilik suara dengan
rintihan lapar tanpa jeda.
Ingatanku teraniaya, akan zaman raja-raja.
Anak-anak lahir dengan tinju dan peluru.
Berbicara dengan dendam dan api.
Sementara para sarjana bicara perubahan yang satir.
Dari langit turun janji, dari bumi lahir kesaksian.
Terjadi pernikahan golongan, saling jabat tangan menghasilkan turunan, kemiskinan namanya dan anaknya adalah pelacuran serta kejahatan.
Di dadaku seribu kepedihan menjelma lagu.
Sementara di dadamu gelisah itu diam dan bunuh diri.
Di atas air peraturan membayang, hukum menjadi batu yang di lempar pada kebudayaan priyayi tempo dulu.
Aku bertanya, “Apa artinya kata-kata di hadapan kendaraan lapis baja ?”
Kita lahir di zaman kepercayaan yang disemayamkan
Di sembah seperti Arca
Di yakini seperti iman dan kitab suci.
Awan hitam menyelimuti politik, keberagaman beragama dan gerakan pembebasan.
Abrasi macam apa ini ?
Tahun-tahun berlalu menjadi prasasti yang sulit di baca esok hari.
Sumpah Palapa, pemersatu Nusantara adalah surat kaleng yang tersangkut di sungai.
Corong-corong wacana, menjadi sekedar bunyi
Juga menjadi alat melepas nilai dan pengkerdilan diri.
Matahari terbenam, rembulan takut bersinar.
Diantara awan gelap dan sejarah yang luntur
Aku menyaksikan Zaman yang gagap dan gugup,
Tak lagi punya kata untuk mempertahankan dirinya.
Ini adalah kalender merah, tanggal-tanggal eksekusi, dimana puisi menyelimuti angka-angka
Lalu waktu hanya menjadi rasa bahwa kemarin dan esok adalah hari ini.
-Selamat Tahun Baru Keluarga, Kekasih, Sahabat, Saudara dan Alam Semesta-
Bandung, 21 Desember 2018

Comments
Post a Comment