"Terpaksa" Pasrah....
Tak ada yang ingin berpisah dengan orang-orang yang
dicintai, semua akan sekuat tenaga mempertahankan apa yang sudah diberikan
Tuhan. Namun Tunas tak pernah sadar tahun ini Tuhan telah mengirimkan kembali
kesunyian di seluruh alam. Semuanya
bergerak dalam diam, bicara pelan-pelan.
Tahun ini, Tunas tak tahu hampir semua petualangan harus
bersahabat dengan bayang-bayang, menjauhi sanksi orang-orang, memasrahkan diri
pada keheningan Tuhan. Bahkan, yang Tunas tidak ketahui adalah malaikat maut
memberikan pilihan selama dua pekan pada targetnya untuk menentukan sikap,
sebelum kembali menjalankan tugas.
Seperti berdiri di ujung jurang, tak ada pilihan, semuanya
beresiko mengundang kematian. Memang tahun ini, kematian seperti gelombang arus
mudik. Pikirnya, ia harus melawan arus, tak ada jalan lain. Bukan soal nekad atau sok-sokan seperti
memiliki ilmu kebal, namun apa daya, ini dilakukan demi ketenangan saat tidur
malam dan menjauhkan anak istri dari hantu kemiskinan yang kerap mengetuk pintu
jendela kamar.
“Mas, sudah, gak usah pergi, kita pasrahkan pada Tuhan apa
yang kita alami ini,” kata sang istri ambil menggengam tanganya.
Tunas hanya terdiam, menahan sesuatu yang ingin meledak di
dalam dadanya.
“Pasrah ? seandainya pasrah membuat kita kenyang Bu, aku tak
perlu repot dan tak perlu malu kalau bertemu orang tuamu,” balasnya sambil
melepaskan gengagaman sang istri.
Siang itu, matahari yang memuncak di atas kepalanya seperti
lampu sorot panggung yang mengikuti ke mana Si Pementas akan bergerak. Angin
yang menerbangkan debu menyentuh segala kemungkinan, mendinginkan gelisah dalam
hatinya, dan deretan rumah tetangga dengan mata yang tak terlihat menjadi saksi
atas kepergiannya mencari keadilan Tuhan.
Sementara kepergiannya, menyisakan kesepeian yang amat bagi
sang istri dan ke dua anaknya. Hari ini mereka harus berjuang mengusir hantu
lapar dengan nota hutang ke warung tetangga juga harus mulai menghitung dan
mengukur diri kapan akan mendapatkan gelar janda serta pTunastu.
******
Tunas terus berjalan, sambil memutar pikiran ke arah mana harus
mencari pemberhentian. Bunyi klakson sesekali mencoba meruntuhkan
konsentrasinya, tapi Tunas tak bergeming. Dia seperti berjalan di tengah rimba
tanpa nama, tak ada kompas, tak membawa peta pula. Hanya sekepal keyakinan dan
harapan bahwa sang istri dan anak ikut mendoakan meski kata perpisahan tak
sempat singgah di telinga mereka.
Beberapa jam berjalan, kakinya mengalami kelelahan. Akhirnya
untuk sementara Tunas berhenti di depan Alun-alun Kota. Duduk di atas bangku
yang sudah disediakan pemerintah, katanya bangku yang berjajar sepanjang
trotoar jalan Asia-Afrika adalah media gratis bagi masyarakat untuk sedikit
merelaksasi pikiran dari penatnya kehidupan dengan menikmati pemandangan, agar
kembali efektif meyulam hari dan berujung meningkatknya indeks kebahagiaan. Tunas
tau hal itu, ia sempat membaca dari surat kabar.
Kemudian Tunas duduk dan berharap takhayul yang
didefinisikan atas nama pembangunan itu bisa sedikit meringankan bebannya. Tunas
pandangin orang-orang di Alun-alun. Matanya seperti lensa pendembak jitu,
mengarah tajam, mengecil dan membesar. Tak ada satupun orang yang tak luput
dari pandangannya. Alun-alun Kota, begitu hambar baginya, seperti sayur tanpa
garam. Bangunan yang di desain untuk mendukung kebahagiaan masyarakat itu tak
memiliki rasa apapun baginya.
Sesekali Tunas tersenyum kecut, kala menyaksiakan sepasang
muda-mudi sedang bertukar klaim tentang siapa yang paling memiliki dunTunas.
Hal itu pernah dia alami, tapi tidak di bawah bangunan yang megah dengan kepentingan
dan tipu daya. Waktu itu, ia mengikat janji dengan sang istri, kala Kota ini
masih memiliki paru-paru dan masih nikmat untuk di hirup udaranya. Sehingga
cinta mereka segar untuk meyusuri hari, melewati tanggal meski tersendat saat
melewati pintu nasib.
Tunas pindahkan pandangannya pada keluarga kecil yang sedang
menunggu Bus Kota. Tak ada eskpresi padanya, ketika Sang Ayah di sebrang
mengelus manja Si Istri dan mendekap hangat Si buah hati. Seperti ada yang
mencengkram dadanya, tak nampak namun terasa. Pecakapan kecil yang tanpa suara
seperti jarum yang menancap di ingatannya.
Bus membawa pemandangan itu dari matanya, sekaligus
menyadarkannya bahwa duduk di kursi itu tak menghilangkan apapun, semuanya
menjadi semakin bebal dengan landscape yang terlihat. Kuris itu bukan untuk
meningkatkan kebahagiaan, lebih tepat mempertajam penderitaan.
*****
Waktu yang terus berputar, tak letih menunggu kapan dia akan
menyerah. Keheningan yang di kirim Tuhan tahun ini, telah memporak-porandakan
kehidupan yang sudah di tata rapih. Baginya, tahun ini jauh lebih menyeramkan
dari musibah tsunami Aceh 2004 silam. Gelombang kemiskinan setinggi gunung
mendera buruh-buruh pabrik, dan pekerja serabutan macam dirinya. Harapan yang setiap
hari terselip pada doa dari istri juga ke dua buah hatinya diambil paksa oleh
kebijakan, semuanya tersungkur dibiarkan kalah, wajib memelas bantuan. Fenomena
yang sulit dibaca oleh ahli sejarah manapun.
Siang itu, terik matahari
seperti melarang dia menemukan penghilang dahaga. Letih menyusuri lembah-lembah
kota yang digalaukan oleh lampu dan taman-taman. Kakinya yang telah lama
berjalan dan kelelahan menopang berat badan juga ratusan kilo persoalan,
akhirnya tersungkur di sebrang Rumah Sakit tua yang sudah di perbarui.
Tembok putih di depannya dengan logo palang merah seperti
membawa angin surga. Matanya terpaku ke sana, ya logo palang merah menyentuh
lukanya. Betul saja, sebuah percakapan mengambil perhatiannya, dua orang
laki-laki berdiskusi tak jauh dari tempat Tunas menempikan sementara pencarTunasn.
“Kita menunggu komando di sini Bang,” kata salah satu pria
yang usianya jauh lebih mudah dari lawan bicaranya.
“Tapi kita juga harus ambil alternatif lain, kalau-kalau
komando tak kunjung datang sampai batas waktu yang ditentukan,” balas si pria yang lebih tua.
“Bagusnya, tadi kita mendegarkan arahan dari Eyang, harusnya
kita di sini bertiga, dengan tugas yang berbeda. Aku menunggu di sini supaya bisa
merekam seluruh kegiatan dari luar, kau masuk bersama satu orang yang
dibutuhkan dan berpencar di dalam, satu mencari target dan memastkan aman, yang
satu lagi melihat situasi dan kondisi bagaimana jalan masuk bisa ditembus,
sayang Istri mendiang menyuruh pekerjaan ini dilakukan lebih cepat, jadi kita
pincang strategi,” ujarnya, sambil melihat kanan kiri.
Mendenger percakapan itu, dia langsung menghampir ke dua pria
tersebut.
“kudengar kalian membutuhkan satu orang pria lagi untuk
mencapai starategi yang baik ?” tanyanya, sambil langsung duduk tanpa menunggu
dipersilahkan.
Kedua pria tadi kebingungan. Keduanya seperti melihat
makhluk asing, tanpa kata dan dahi mereka bergelombang. Sejenak semuanya
menjadi sepi, tak ada kata yang menyabut kehadirannya. Namun si pria paruh baya
mencairkan suasana, bak seorang diplomat dia menyambut ke datangannya dengan
senyum hangat.
“Betul, kamu mendengar percakapan kami ?” tanyanya.
“Sangat jelas,” Tunas membalas.
“Di tengah karya Tuhan tahun ini, rasa-rasanya nasib baik
sedikit alergi pada kita bukan ?” si pria paruh baya mengakrabkan diri.
Si pemuda hanya gelagapan tak bicara sedikitpun, naluri
remajanya terasa berdegup kencang, tanda dia masih waspada atas kehadirannya
yang menyalip obrolan mereka berdua.
“Ya, nasib baik hanya berpihak pada mereka yang punya
kedekatan dan relasi, juga memangku tahta. Jujurnya saja aku sedang kepepet,
kalau kalian bersedia aku siap
menyanggupi sebagai pion terdepan atas misi kalian ,” jawabnya tanpa memohon
izin untuk ikut terlibat.
Si Pemuda semakin tak karuan, keringat dingin merubah
wajahnya. Dia curiga, kalau-kalau orang yang baru melamar pada timnya adalah bagian
dari mata dan telinga para pemangku kebijakan yang saban hari mengumumkan
melibatkan agen khusus untuk melumpuhkan keheningan yang Tuhan berikan.
Lagi-lagi si Pria paruh baya menenangkannya, dia tepuk bahu
si Pemuda.
“Akhirnya, misi kita akan berhasil. Mari kita pindah lokasi,
bicara lebih hangat dalam mematangkan strategi sebelum waktu mulai jengkel pada
kita,” ajak si Pria paruh baya.
Tanpa bersuara mereka mengendap dari terik matahari,
berteduh pada tempat yang lebih hening dari sebelumnya. Si Pemuda mencoba
meruntuhkan segala keraguannya, ia ikut pada orang yang lebih tua, sebagai pion
tak ada yang bisa dilakukan di depan titah komandan.
“Kamu sudah mendegar percakapan kami sejak tadi, kamu juga
sudah paham strategi yang saya inginkan. Sekarang, kita bahas urusan fee. Sesuai dengan janji Eyang yang
menyuruh kami melakukan ini operasi, bayaran akan masuk ke dompet kita setelah
pekerjaan usai,” katanya.
“Sekarang hanya kau yang memegang alat komunikasi,” sambil
mengarah pada si Pemuda. “artinya, kamu yang akan menjadi navigator sesuai
dengan keinginanmu tadi, kamu cari target dan setelah menemukannya berikan
tanda sinyal, biar nanti pemegang alat komunikasi menyampaikan padaku, setelah
itu tunggu, maka serangan di mulai, dapat di mengerti ?” tanyanya.
“Siap !!” jawab mereka berdua.
*****
Matahari mulai mengurangi tugasnya, bayang-bayang nyang
ditimbulkan mula berjalan, itu adalah tanda Griliya dimulai. Tiga orang yang
tesungkur diujung jurang nasib, mulai beraksi. Sang komandan si Pria paruh
baya, menunggu dua pionnya yang bergerak dalam bayang-bayang matahari yang
mulai lelah. Bersaing dengan waktu adalah perlombaan yang tak pernah mengenal
Dewi Fortuna.
Mereka beruda menyelinap masuk ke RS, si Pemuda langsung
bergerak dengan gesit mengamankan posnya sesuai denga intruksi. Sementara Tunas
masih terbata-bata mendefinisikan arah tujuan. dia meraba-raba menjenguk setiap
ruangan, menelusuri lorong yang lebih galau dan gelap dari pada lampu dan taman
Kota.
Tunas menyentuh setiap tembok yang lebih dingin dari
dingding rumahnya. Tidak sampai disitu, tatapan sinis dan penuh curiga dari
orang-orang seperti menggiringnya terjebak dalam gua es. Perawat dengan jubah
astront hilir mudik memperhatinkannya, wajar saja tak ada pengamanan atau bekal
logistik sedikitpun dari sang komandan untuk digunakan dalam misi ini. Demi
sesuap nasi kadang kala manusia harus siap dengan misi bunuh diri.
Lambat laun derap sepatu dan suara gaduh orang-orang serta
ringkik menahan sakit semakin mengecil. Tepat di satu lorong, Tunas berhenti.
Tak ada angin di sana, semuanya seperti membeku. Lampu remang-remang yang
memanjang juga sebagian ada yang redup menambah mistis lorong itu. Keheningan
seperti sudah akrab dengan tembok dan barang-barang di sana. Dia enggan masuk,
sebab rasa takut sudah memeluknya sejak ia tak mendengar apapun di sana. Itulah
tempat yang dituju, target operasi singkat “Kamar Jenazah”.
Tanpa sempat melepas rasa takut yang memeluknya, Tunas
memberikan tanda pada si Pemuda yang sudah sekecil batang korek api dari
pandangannya. Dia menganggukan kepala, jawabanya langsung di sambar si gesit
yang langsung memberikan informasi pada sang komandan yang menuggu di titik
awal.
Kemudian si Pemuda memberikan sinyal dengan menggerakan
lengan menuju arah utara tempat bala bantuan akan tiba. Di tengah jutaan
pertanyaan tentang misinya menemukan kamar jenazah, rasa takut semkin memeluk
erat, menciumi kening dan lehernya, membuatnya tak berdaya. Tunas harus
berdamai dengan keadaan seperti itu selama tiga puluh menit ke depan.
*****
Waktu menunjukan pukul setengah empat, adzan ashar berkumandang,
semua orang bergegas ke masjid terdekat. Termasuk para perawat dan dokter yang
tak bisa menolak paggilan itu. Seperti yang sudah ditargetkan si komandan,
panggilan ini berhasil dimanfaatkan. Sewaktu orang-orang disibukan dengan
panggilan adzan. Tepat di arah si Pemuda diam dan menunggu, terdengar gema
takbir dan kalimat-kalimat lain yang ikut bersamanya. Lambat laun semakin
jelas. Keadaan semakin gaduh bersama derap kaki dan suara pintu dan kuris yang
diobrak abrik.
Orang-orang beralih perhatian, sebagian menghiraukan
panggilan adzan. Kegaduhan itu jadi tontonan. Ternyata benar. Bala bantuan yang
disebutkan si Komandan datang. Dua batalyon keluarga dengan pakaTunasn semaunya
menyerbu lorong-lorong Rumah Sakit. Setiap ruang berhail mereka teriaki,
pasien-pasien mendadak mengalami penyakit tambahn “shock”. Si Pemuda mengambil
alih batalyon dan memimpinnya di barisan depan.
“TUNJUKAN ARAHNYA!!” teriak si pemuda.
“KEMBALIKAN, BIAR KAMI URUS SENDIRI KELUARGA KAMI” teriak
mereka.
Sesuai dengan intruksi, ketika bala bantuan datang, dia
berperan sebagai navigator. Dia tunjukan arah kamar jenazah. Hanya satu kali dia
mengarahkan lengan, batalyon ganas ini langsung mengerti. Mereka melaju dengan
cepat melumat apa yang menghalagi, terikan dan amarah yang digenggam oleh
masing anggota adalah senjata, tak ada yang bisa meghalangi. Hari itu dia
melihat bahwa hukum rimba tak lebih mengerikan dari hukum tata Negara.
Mereka terus melaju menuju lorong yang hening dan menakutkan
sebelum menuju kamar jenazah. Anehnya, benteng sepi dan para penjaga berupa
rasa takut yang melekat di lorong itu, seketika lari pontang-panting melihat
amuk dua batalyon nekad ini. Keamanan tak bisa menahan, perawat dan dokter
hanya bisa menyaksikan saja, bahkan waktu dan kumandang adzan seperti musik pengiring
pertunujukan teater. Tanpa ada rasa takut di dada mereka, satu sosok jenazah
yang sudah dibungkus kain kafan dan plastic diangkut paksa.
Jenazah yang tak dia ketahui asal usul bahkan namanya itu,
seperti seorang rockstar yang lompat dari atas panggung untuk bercemgkrama
dengan para fans panatiknya. Pemandang yang luar bisa , Tunas tak mampu
mengurai pertunjukan tersebut. Hanya saja ia mencoba menduga-duga,
jangan-jangan jenazah itu adalah orang yang tak mampu bertahan dari Keheningan
yang diberikan Tuhan. Atau……
Tak selesai menuntaskan analisanya, pria paruh baya sang
Komandan dan si gesit pemuda dengan terburu-buru mengajaknya untuk meninggalkan
Rumah Sakit tanpa ikut dengan rombogan batalyon.
Mereka bertiga lari lewat pintu belakang, sebuah mobil
angkutan umum sudah menunggu kedatangan mereka. Di bawanya mereka bertiga pergi
dari Rumas Sakit, dan pandangan si Komdan juga tarikan nafas panjang si pemuda
seolah memaksa untuk melupakan segala peristiwa yang baru saja disaksikan.
Sampai pada rumah megah berdingding jati, angkutan umum yang
membawa kami berhenti, menurunkan kami dan Kemudian pergi pula dengan
tergesa-gesa.
Tak ada keramain di sana, hanya seperti rumah yang sedang
ditinggalkan penghuninya. Si Komdan dan si Gesit menyuruhnya diam di teras,
sedang mereka berdua masuk. Tak sempat menanyakan alasan kenapa Tunas tak diajak
masuk kedua pria tersebut sudah masuk ke dalam rumah. Tunas mencoba mengulang
analisanya tentang sosok jenazah yang dimambil paksa. Namun ia menemui jalan
buntu, pikirannya hanya terpatri pada apa yang terjadi di dalam rumah itu, dan
apa yang dilakukan kedua rekan kerjanya.
Tak lama sang Komandan keluar, dengan wajah yang sudah basah
oleh ari segar, bibirnya sudah tak lagi menggambarkan ketegangan. Sang komandan
memberikanya amplop berisi uang.
“Ini cukup untuk pekerjaan kita, kamu tak perlu tahu siapa
yang memberiknya, percayalah padaku
hasilnya kita bagi dengan seimbang. Maaf
pemilik rumah tak mengizinkan kamu masuk, jadi lebih baik kamu segera pulang,
dan berikan kabar baik keluargamu, untuk beberapa waktu ke depan nasib baik ada
di dalam amplop itu,” katanya.
Tunas hanya mengangguk dan si Komandan seperti tak butuh
ucapan terima kasih, dia langsung menghilang ditelan pintu rumah itu.
Langit sore itu sungguh ramah, anginnya memberikan sentuhan
mesra. Nafas lega mengiringi langkah kakinya pulang, tanpa harus mengetahui
kapan bisa menemukan lagi mereka berdua, Tunas hanya bangga atas petualangannya
hari ini. Senyumnya, menginsyaratkan bahwa hantu kelaparan harus siap-siap menerima
pukulan.
Adzan manghrib berkumandang, menjadi bel bagi yang di rumah
bahwa Tunas sudah sampai di depan rumahnya. Sang istri dan menengok dari balik
jendela, Kemudian bergegas membuka pintu bagi sang Pahlawan. Pelukan hangat Tunas
dapat dari kedua anaknya yang menyusul di balik gemulai langkah sang Ibu. Tunas
membelai rambut sang istri. Pemandangan itu mirip dengan sepasang keluarga yang
dia lihat sewaktu duduk dikurisi khayalan di depan Alun-alun.
Suasana semakin hangat ketika mereka bertiga baru sadar
bahwa sang ayah membawa bingkisan sembako dan bingkisan makanan untuk di santap
malam itu.
******
Seminggu berselang. Selama itu pula dan mungkin berbulan ke
depan hantu kelaparan tak mau datang. Setelah Tunas mendapatkan perisai pelindung
dari apa yang dikerjakannya tempo hari. Sang istri dan kedua anaknya tak pernah
menanyakan dari mana uang yang menjadi pelindung mereka. Semuanya seperti
terhipnotis dan itu membuatnya lega. Bahkan, dia belum ingin menemui sang
Komandan dan Si Pemuda, peristiwa yang dialami
untuk sementara berhasil dilipat dan di
simpan dalam ingatan.
Kedua anaknya sedang asik sarapan, sang istri sedang mempersiapkan
menu untuk makan siang . Sedangkan Tunas sedang bersantai di dalam kamar.
Tiba-tiba dua orang datang memasuki pekarangan rumah, pagar yang tak dikunci
membuat kedua anaknya dan dia yang sedang bersantai tak mengetahui keberadaan
mereka. Hanya sang istri yang melihat, segera si Ibu mengahampiri pintu depan.
Betul saja, setelah membukakan pintu, sang istri di kagetkan dengan kedatangan
Pak RT juga aparat kepolisian.
“Bapak ada ?” tanya Pak RT
Tanpa sempat menjawab, tiba rumahnya menjadi tontonan,
sekelompok orang dengan pakaian astronot mengelilingi rumahnya. Sebagian ada
yang menyemprotkan cairan, sebagian lagi memeriksa keadaan dan mencoba menanyai
tetangga.
Suara yang gaduh memberhentikan kenikmatannya di kamar,
ditambah lagi suara kaki sang istri yang terburu-buru menuju kamarnya.
“Pak ada Polisi Pak, ada Polisi,” gemetar sang istri lirih,
disusul kedua anaknya yang datang menghampiri berbekal wajah pucat dan
ketakutan.
Dia langsung bergegas ke depan dan ketiga mutiaranya mengikuti. Tanpa mukadimah, mereka
langsung
diterjang pertanyaan.
“Anda telibat kasus penjemputan jenazah pekan lalu, otomatis
anda di duga ODP, akan segera kami angkut,” ucap Pak Polisi tanpa mengucapka
salam juga memperlihatkan wajah ramahnya, Pak RT hanya tertunduk membiarkan
sekelompok orang dengan pakaTunasn astronot mengambil paksa dia dari cengkraman
sang istri dan kedua anaknya. Pristiwa yang hampir mirip saat Tunas menjalakan
misi, orang-orang berpakaian astronot, kerumunan, pandang sinis dan tajam, aura
kecurigaan dan bisik-bisik penuh kewaspadaan. Yang membedakan hanya siapa yang
menjalankan misi dan siapa yang sedang didera ketakutan itu saja.
Pagi itu ratap tangis hanya milik istri dan kedua anaknya, Tunas
di paksa naik ke mobil ambulance yang sudah di desain mirip seperti alat
inkubasi. Jerit tangis mutiaranya, memcahkan airmata di pipi, seperti saat dia pergi,
tak ada tanda perpisahan atau doa yang terucap, hanya ada paksaan yang
melepaskan eratnya pegangan tangan.
“Tuhan barangkali pasrah akan membuat istri dan anakku
kenyang untuk beberapa waktu, hamba hanya memohon jangan biarkan hantu
kelaparan datang menggangu hari-hari mereka,” ucapnya.
Rombongan meninggalkan rumahnya, hanya tingal kerumunan
warga yang mencoba memastikan keadaan. Dari balik jendela mobil, Tunas melihat
hantu kelaparan dan kemiskinan melambaikan tangan.
Bandung, 14 Juni 2020

Comments
Post a Comment