Jalan Kaki
Pukul sembilan pagi, kesegaran masih terjaga, sebagian besarnya menempel di dadaku, dan karena itu pula kedua kakiku menyalakan kompasnya. Segera kupanaskan keduanya, kiri dan kanan, tak ada yang unggul semuanya seimbang. Tangan mengepal ke langit, kepala menengadah, dan mesin-mesin di tubuhku mulai bergolak tanda harus segera bergerak.
Kusiapkan satu gelas teh hangat lengkap dengan semangat di dalamnya. Kukenakan topi agar matahari tak mudah mengibiri keberanian ini. Jaket yang tergantung di belakang pintu mulai memaksa dan merayu, kupilih salah satu yang paling ahli membakar diri dan siap berkelahi dengan angin. Kaos kaki mengintip di laci, kubiarkan mereka berkompetisi berebut kelayakan. Pada akhirnya, kubiarkan keributan itu dan kupilih kaos kaki yang sudah bersetubuh dengan kekasihnya berbulan-bulan sejak bumi berhenti sebentar. Kacamata dan smartphone masing-masing menguji kelayakan mereka semaunya agar ikut berpartisipasi dalam upaya menyelamatkan indra dan menerbangkan wawasan.
Aku melangkah dengan semangat di saku celana. Aroma rindu tercium kala pertama menyentuhkan kaki pada tanah dan aspal yang sudah sekian lama menyimpan perasaan itu. Kubiarkan mereka saling bertukar kabar, bermesraan dan bercumbu agar panasnya rasa cinta memberikan tenaga pada ritme kecepatan menerka jalanan.
Satu pemukiman padat keluhan menjadi landscape pertama yang terekam. Janda-janda muda menyusui bayinya sambil mencoba menangkap harapan setelah kepergian suaminya. Anak-anak melompat terjun ke kolam MCK yang tak layak guna, meski keruh kebahagiaan mutlak milik mereka, lelaki lanjut usia tersenyum manis meski dia lupa baru keluar dari wc wanita. Lalu para pemuda lulusan SMA calon Mahasiswa terpana di pengkolan, kebingungan mencerna keberpihak nasib yang terjepit persoalan ekonomi. Di langit yang sama keluh kesah itu mengembun di kepalaku, sebuah rentetan waktu dan pil pahit masa lalu yang kembali terkecap di lidah. Aku menyusuri pemandangan itu dengan menundukan kepala.
Sebagian besar harapan mereka mengerak bertahun-tahun di jalan sempit itu, di dingding rumah yang kasar, di atap rumah yang reot, dan di kontrakan petakan. Wajah-wajah yang sudah kehabisan tenaga untuk mengecap rasa bahagia, raga yang tak lagi memiliki daya upaya setelah sekian lama dicuri kepercayaannya.
Aroma rindu dan hasrat lama tak bertemu di kakiku, tak tercium lagi. Pelan-pelan pudar tergantikan dengan bau gosong dari doa-doa yang terbakar. Kecepatan ini berkurang, seperti memaksaku merekam segala kejadian, mencium keringat mereka, bercumbu dengan para Janda, bermain dengan anak-anak, merawat lansia dan menata masa depan para pemuda. Ada kesedihan yang begejolak, ada penolakan yang mengikat, aku kebingungan, sementara kecepatan semakin berkurang.
Seorang lansia tersenyum padaku, mencoba mengakrabkan diri. Sementara aku hanya tertunduk malu, tak kubalas senyum itu. Tapi apa yang terjadi ia nekad mengahalangi jalanku. Di dalam lorong yang pas-pasan aku terjebak pada perasan yang tak karuan.
"Den... Minta rokok punya Den, kalau ada minta sebatang saja.."
Kedua kakiku mengerem begitu saja, entah karena penghormatan pada yang lebih tua, menghargai keberadaanya, atau karena kesedihan yang teramat. Aku tak memiliki kesempatan untuk memilih. Dengan segera sebungkus rokok kukeluarkan dari saku jaket, kuberi dia dua batang rokok. Ia menerimanya sambil menundukan badan, kemudian menelaah rokok itu, dari ujung ke ujung. Ukurannya ia cermari, warna dan aroma ia susuri.
"Den..alhamdulilah... Terima kasih.. Aduh..aduh rokok, manis, ini rokok kecil, rokok putih, nikmat..."
Kakek tua itu girang, sambil terus berteriak dan berseri-seri. Aura kebahagiaan terpencar, dan terbagi pada lamunan di sekitar yang menunggu belas kasih. Aku hanya tertunduk dan tersenyum kecut, kemudian kembali kunyalakan semangat di kedua kaki, kucoba mencium kerinduan dan gejolak asmara mereka pada aspal dan tanah, namun tak ada, dan baru kutersadar pemukiman itu tak kenal tanah, tak terjamah aspal. Di sana jalan-jalan ditumpuk berangkal yang ditutupi semen, bergelombang penuh lubang. Pekerjaan yang penuh keterpaksaan, mungkin agar penghuni pemukiman tetap merasa terperhatikan. Sebab ruang untuk beralasan, protes dan melawan sudah tenggelam di kolam MCK, bahkan sebagian mengering digenting bersama pakaian yang dijemur.
Tanpa ada rindu yang memanas, kupacu kembali kedua kakiku. Meninggal landscape pertama itu.
Keringat mulai membanjiri tubuh, matahari mulai merangkak ke singgasananya. Kedua kakiku mulai menyala, gejolak cinta pada tanah dan aspal terasa lagi, dan kecepatan itu hidup kembali. Angin menyentuh tubuhku, begitu menyegarkan, menyelinap pada setiap sendi meredekan panas diri yang terbakar jaket dan peristiwa tadi.
Pemandangan baru kujumpai, rumah-rumah besar dan bertingkat. Pagar dengan besi, halaman luas penuh dengan tanaman cantik, warna cat yang merona, eksotisnya merah pada genting, memancarkan aura berbeda. Jalanan yang terbangun lurus, pelohonan yang tertata rapi. Kesejukan ada diantara pemandangan ini, tak ada bau gosong, aku mencium kesejahteraan.
Lalu timbul perasaan aneh, yang pelan-pelan menyelimutiku, mempertanyakan sesuatu. Sejak awal kutemui pemandangan ini tak ada satupun sosok yang nampak di mataku, tak kutemui lagi orang-orang yang menerjemankan hidup dan menyaksikan nasib mereka disiasati yang lain. Kucoba pelankan kecepatan kaki, kali ini aku berinisiatif merekam peristiwa aneh ini, kelayakan yang mencekam.
Kesunyian hinggap pada tembok banguan yang menjulang, mereka memperhatikanku, mengamati langkahku. Di balik jendela sepasang mata yang lain mengintip, seperti terganggu dengan aroma rindu dan panasnya mesin kakiku.
Debu dan kotoran hinggap di kaca jendela rumah megah, lumpur membekas pada kendaraan yang membisu. Potret yang aneh, satu sisi sepanjang jalan ini aroma kesejahteraan begitu menyengat tapi hawa kesendirian dan kesepian tak kala membuat bulu kuduk merinding.
Sepasang mata selalu menjadi kamera, setiap langkah terekam dengan jelas. Ketika kubalas pandangan mereka, lantas dengan segera mereka menutup tirai jendela. Sepanjang pepohonan yang rapi, tak kutemui jejak dari kegelisahan yang martir. Daun-daun yang berjatuhan tak satupun menyimpan peristiwa pelik. Ada pertaanyaan yang bermunculan dan spekulasi keterlaluan. Kembali lagi aku terjebak pada batas-batas ketidakpastiaan antara terus merekam atau meningkatkan kecepatan.
Tak sempat aku berfikir, aku dikagetkan seorang wanita lansia yang sedang berjemur di sampinga mobil mewahnya. Ia melihat kedatanganku sedari awal, matanya menatap tajam, seperti Elang yang siap menyambar. Begitu dalam ia melihaku, aku mencoba membalas pandangannya, dengan ketajaman yang sama. Meski aku lebih muda, urusan berbalas pandangan wanita lansia itu lebih berpengalaman. Kulitnya yang kendor, rambutnya yang putih, serta tulang sudah menapakan diri menggambarkan perjalanang pernah di lalui.
"Heh Bocah !! Ngapain ke Sini ?!! Gak usah lihat-lihat !! Gak usah minta-minta, orang lain usaha kamu malah seenaknya minta-minta !!"
Aku terkejut mendengar teguran wanita lansia itu. Kata-katanya seperti menyudutkanku. Seperti dipersidangan, ia menjelma hakim yang memutuskan rentan waktu hukuman. Aku bertanya-tanya bolehkah aku melawan ? Adakah Hak untukku ?
"Maaf Bu ! Saya hanya numpang lewat dan tidak bermaksud seperti apa yang ibu sangkakan," balasku tanpa melihat jeda usia.
"Bohong kamu bocah !! Bau busuk kamu, bau tutung kamu, bau comberan kamu, bau miskin kamu, bau itu selalu jujur heh Bocah !! Pergi sana !!"
Dari atas kursi rodanya ia terlihat ingin memangsaku, wanita itu berusaha bangkit dari duduknya. Urat leher dan di keningnya seperti tatto. Wajahnya memerah, wanita lansia itu meradang.
Meski ia terus muntah kata-kata dan kutukan, semua tak kuhiraukan. Aku hanya menatapnya sambil melaju dengan kecepatan yang aman. Kucoba membaca gejala kemarahannya dengan membalas tatapan itu, tapi dia begitu cepat mengecil dan menjauh dari pembalasanku. Aku pun meradang, tapi emosi yang berapi-api ini kalah dengan sentuhan angin yang menyelinap. Kecepatanku kembali stabil, dan kesunyian potret ke dua ini masih menempel di setiap bangunan, mereka hidup berkeluarga dengan mata yang selalu mengintip kala suara mengetuk, kala aroma lain tercium.
Atas prasangka wanita lansia itu aku jadi curiga dengan aroma tubuhku. Kuciumi bagian-bagian penting tempat terproduksinya bau badan. Di lenganku hanya ada aroma gosong akibat suhu yang meningkat dan jaket bermandikan parfum. Di kakiku hanya ada aroma cinta, aspal dan alas kaki, seperti muda mudi geloranya membuat kepulan asap pada setiap langkah.
Keringat bercucuran, kemudian matahari tertawa telah duduk di singgasananya. Gempuran angin tak lagi menyejukan, pohon serta daunnya mencoba menahan, begitu pula dengan aku yang harus membentengi diri dengan tegukan air, lalu duduk di pinggir jalan. Aku tergerus mimpi, tersapu roda-roda proses mewujudkannya.
Kuselonjorkan kedua kaki, memberikan jeda pada proses bercinta mereka. Mereka meronta, marah dan memaksa untuk bangkit. Tapi aku menolak, aku ingin membiarkan segela yang dikonsumsi melebur, mengalir bersama keringat. Di sisi, aku terluka, aku kesakitan, aku tak rela membiarkan proses bercinta kedua kakiku dengan aspal dan tanah menjadi kisah cinta yang meyakitkan, karena kenyataanya mereka telah berdarah-darah.
Kusandarkan wajahku pada teriknya jalanan. Menatap pada luasnya semesta, meski bibir terasa kering. Aku masih meraba pada pristiwa tadi, landscape yang merobek sanubari. Telah kusaksikan dimensi yang penuh dengan sanksi, kenyataan yang pahit dan nasib yang sudah tak bergerak. Lalu apa guna perjalanan ini ? Pertanyaan yang menyiksaku.
Bandung, 15 Juli 2020

Comments
Post a Comment