KAMPUSKU, YA KAMPUSMU. DOSENMU YA DOSENKU ?
Ya ampun Pak-Pak, apa ga cukup
pelayanan istri di rumah ? atau memang bapa gak dapet restu buat mendua ? atau
istri bapak sedang jarang di rumah jadi bapak jarang di goyang ? sampai-sampai
Bapak Dosen hilang kendali, macam kuda jantan lepas dari kandang dan siap
menerjang jalan menuju lubang-lubang kenikmatan. Yihaaaaaa
Baru-baru ini salah satu kampus
“hijau” di Kota Bandung kembali bikin geger, setelah video hot mahasiswa
binaannya, kini dosennya ikut-ikutan berkontribusi dalam tindakan asusila.
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) di kampus ini memberitakan kasus pelecehan seksual
yang dilakukan dosen pada tahun 2016. Coba deh kalian baca supaya saya tak
perlu lagi menjelaskan bagaimana kronologisnya, waktu nulis ini pun saya mendadak menjadi pribadi yang
sumbu pendek,mengingat tahun 2016 itu saya masih aktif sebagai mahasiswa tingkat
akhir di kampus “hijau” ini. Kejadian ini menambah daftar panjang rentetan
tindakan asusila di perguruan tinggi, baik yang terungkap atau tidak.
Geregetan rasanya denger kampus
sendiri jadi gunjingan karena tindakan asusila bukan prestasi. Gemes deh pengen
bogem Pak Dosen sekali atau dua kali lah cukup, Ups, tapi jangan saya lupa ini
negara hukum, nanti ditahan 6 bulan kaya Bu Nuril. Semuanya harus finis pada
kata SABAR, nyatanya kesabaran ini harus terus di kelonin oleh dalih nama baik
kampus. Kira-kira yang jual kuota sabar dimana yah ? kesabaran saya tinggal 5Mb
lagi nih.
Bagi saya denger kasus gini
seperti tak asing tapi geram, setelah 2,5 tahun saya meninggalkan kampus,
rasa-rasanya performa kampus mencetak agen
of change semakin menurun. Apalagi dosen yang berbuat kriminal macam ini
masih saja dipertahankan. Apa kampus sudah tak menemui kewibaannya ? sialnya,
modus yang selalu di gunakan Pak Dosen untuk mengelabui “ikan asin” selalu sama
yaitu proses akademik, biasanya berputat di soal nilai kuliah dan proses
mengerjakan skripsi, Eh tapi yang di UGM beda yah itu dilakukan oleh Mahsiswa
ketika sedang KKN (Kuliah Kerja Nyata), sementara kita tambahkan KKN karena tak
menutup kemungkinan ruang seperti ini bisa jadi kesempatan bagi Pak Dosen untuk
mengupgrade modusnya, kan Bapak pasti jadi pembimbing KKN, betul tidak Pak ?
Modus akademik sepertinya menjadi
sangat populer di kalangann dosen hidung belang. Pasalnya kebebasan atau
keleluasaan interaksi jaraknya hampir setipis kartu ATM, Eh. Layaknya anak terhadap
orang tua tentu proses komunikasi disana membutuhkan prolog, sama kalo kita
dulu minta sesuatu dengan harga tinggi, tentu ada win-wini solution. Rata-rata situasi akademik urgensinya genting,
nah disini biasanya peluang untuk “mencetak gol”.
Sepertinya Pak Dosen bener-bener
mendalami soal kebebasan akademik sampai-sampai ketingkat laku hingga menjadi
habbit. Mungkin tafsir kebebasan akademik versi Pak Dosen salah satunya dalah
berhak meliihat isi, warna dan bentuk celana dalam mahasiswi atau mahasiswi
yang ikut kuliah kelas bapak harus telanjang. WOOWWWWWWW!!!
Jika seperti ini kebebasan
akademik menjadi multi tafsir bahkan multi kontrol. Sudah tak ada lagi
perbedaan mendasar antara penghayatan kebebasan sebagai 'freedom from' dan 'freedom
to'. Kebebasan akademik bukan sekedar modus 'kebebasan dari' berbagai
keadaan terkekang, terbelenggu, terpasung, dan berbagai keterbatasan lainnya,
melainkan mendapatkan artinya sebagai modus 'kebebasan untuk' bertindak membuat
pilihan. Berbeda dengan yang pertama, modus yang kedua terkait langsung pada
suatu tanggungjawab, karena segala tindakan dilakukan dalam kebebasan
sepenuhnya.
Jika disandarkan pada kasus yang
terjadi di kampus saya, perguruan tinggi saat ini seolah melegalkan pemanfaatan
kebebasan akademik yang berujung pada pembenaran sepihak. Padahal proses terhadap
perkembangan pencarian kebenaran tetap harus berlandaskan 'kebebasan untuk'
bukan 'kebebasan dari'. Di lain pihak pemegang kewenangan dalam kampus (dosen)
bukanlah pusat otoritas kebenaran.
Bagi saya prilaku seperti ini
membuat instrumen otonomi keilmuan menjadi pincang. Maka mahasiswa sudah tak
menemukan landasan wahana pembelajaran dengan ciri khas tertentu. Kebebasan
akademik dan kebebasan mimbar akademik lumpuh seketika, saat mesin stimulus
(dosen) mengikis proses menguji pikiran dan pendapat (kritis) dan
mengesampingkan tanggungjawab.
Fenomena dosen seperti ini
sungguh tidak mencerminkan seperti dalam Undang – Undang Nomor 14 Tahun 2005
tentang Guru dan Dosen. Aturan tersebut menjelaskan mengenai kewajiban dosen
salah satunya yaitu menjungjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan
kode etik, serta nilai-nilai agama dan etika. Ayo pak ngapalin lagi !
Di tengah perjuangan bangsa yang
sedang berjibaku menuju perubahan kiranya pendidikan dosen di dalam kampus
menjadi salah satu tonggak. Civitas kampus justru adalah mesin foto copy bangsa
melahirkan generasi muda yang visioner dan siap berkompetisi. Jika kasus
seperti ini terus dibiarkan kira-kira bangsa kita mau gimana mylov ? silahkan pikirkan.
Seperti kata pemimpin Korea
Selatan Syngman Rhee kepada pemuda Korsel pasca rekontruksi perang Korea,”Untuk Zaman ini biarkan generasi kami yang
tumpah darah, kedepan kewajiban kalian membangun bangsa ini,” kira-kira
begitulah tapi ga pake nada k-pop yah, terbukti ? terbuktilah, nyatanya saat
ini produk LG dan Budaya K-Pop berhasil
dihantarkan oleh para pemuda generasi sesudah perang Korea, saat menjadi
mahasiswa mereka benar-benar memikirkan hal itu, nah kita dengan kasus seperti
ini di dalam kampus-kampus malah jadi generasi Brazer atau JPN lovers,
ckckckckc croot ah !
Ketidaktegasan pihak kampus dalam
bersikap dan memberi sanksi sebagai bagian dari edukasi kepada pelaku pelecehan
seksual menunjukkan ada semacam toleransi civitas akademika terhadap perilaku
yang menyudutkan dan melecehkan perempuan. Lebih parahnya lagi, toleransi salah
kaprah ini menimbulkan budaya baru yaitu PEMBIARAN. Lambat laun jika pihak
kampus tak mampu merevolusi sisitem maka jangan salahkan saya dan netizen kalo
pelecehan seksual di depan umum bisa dianggap lumrah. Kayanya untuk Pak Dosen
itu gagasan keren, ya gak Pak ?
Institusi pendidikan semacam
kampus mestinya menjadi garda paling depan yang menginisiasi penegakan etika,
moral, dan kebajikan (virtue) terkait
dengan penghormatan terhadap perempuan. Apalagi kampus yang berbasi agama,
sudah pasti segunung dalil tentang memuliakan perempuan berdesakan di ruang
perpustakaan (itu pun kalo sering di kunjungi dan dibaca) terlebih kalo pak
dosen sering mencerminkan pribadi yang agamis.
Menjadi tanda tanya besar dong,
kemana para korban harus mengadu ? kebingungan seperti ini menjembatani budaya
pembiaran untuk bertransformasi jadi virus yang mempengaruhi mahasiswa lainnya,
karena takut nilai rendah atau ancaman tidak lulus dibalut rasa takut dan
trauma, akhirnya diam menjadi solusi. Ya, paling-paling cuma jadi curhatan
antar teman atau jadi isu yang tak bersuara.
Faktor lain yang membuat ruang
kekerasan seksual terhadap perempuan semakin melebar karena perempuan korban
kekerasan seksual kerap menerima stigma dari masyarakat jika berusaha
melaporkan apa yang dialaminya ke pihak yang berwajib. Stigma tersebut bisa
berupa stempel negatif sebagai perempuan yang tidak becus menjaga kehormatan
diri, keluarga, mencoreng kultur perempuan secara agama dan moral, bahkan mengkambinghitamkan
perempuan sebagai penyebab utama terjadinya kekerasan seksual. Jangan jadi Agni
ini berat, jangan jadi AS dan BB (nama samaran) kamu tak akan sanggup, jadilah
Pak Dosen kamu akan puasss !!!
Hilang daya kritis
Budaya pembiaran terhadap
tindakan asusila adalah bentuk konkret dari sudut pandang yang menyempit ketika
menghadapi satu isu. Budaya pembiaran juga menandakan bahwa nalar kritis
sebagai mahasiswa kini tinggal menunggu menjadi artefak. Kasus ini menyibak
ingatan bahwa kampusku merupakan gudang dari para aktivis yang kini sedang
manggung di Pilpres dan Pileg 2019 dulunya merekalah yang menjadi tumpuan bagi
keberimbangan kehidupan kami sebagai mahasiwa di tengah ganasnya kebijakan
kampus.
Sekarang Kakanda dan Para Sahabat
seperti Avatar Roku yang hilang di telan bumi. Peninggalan mereka hanyalah
organisasi tertinggi kampus yaitu Dema F dan Sema F yang kini hanya menjadi
boneka dari pada birokrat kampus.
Seyogyanya yang mengakomodir agar
kasus ini bisa di proses hukum adalah mereka, bahkan jika sikap krtitis mereka
masih terjaga merekalah pos pengaduan selain sahabat, keluarga dan Tuhan.
Mungkin saat ini kawan-kawan yang aktif di Organisasi Extra kampus hanya
Berpikir kritis menyoal urusan akademis, kehidupan politik, kehidupan
berbangsa, dan juga skil bagaimana melihat Miss V kaya si Bapak.
Absennya kritisisme berkontribusi
pada fenomena ini, bukan hanya meligitimasi virus pembiaran. Pun demikian
dengan hilangnya gagasan, coba bayangkan ketika peristiwa pelecehan seksual
yang melibatkan dosen ini berhasil mereka olah, mungkin gerakan untuk memboikot
dosen dan merubah sisitem kampus bisa terwujud gak sebatas khayalan kaya
Indonesia bubar 2030,Eh.
Sayanglah, jika stempel aktivis
yang mereka emban tak mampu membangun kepekaan terhadap siuasi sosial macam
ini, lebiih baik bakar saja buku-buku yang menjadi referensi kalian!
Saat ini momen berpikir kritis
adalah sebuah kelangkaan, sehingga penting dilakukan upaya-upaya untuk
mengaktifkan kapasitas kritis manusia. Mengaktifkan pikiran kritis artinya
mempertanyakan apa yang terjadi. Seperti hal nya saya dan alumni yang lain
mempertanyakan dan menunggu sikap kampus mengenai kejadian ini.
Komplekskan ? saya jadi khawatir
generasi kedepannya, melihat situasi saat ini begitu panas selain karena
matahari juga tahun politik pristiwa kampusku dan UGM tak menutup kemungkinan melenggangkan
krisis moral. Bicara branding dan strategi marketing sangat memungkinkan
perguruan tinggi mengalami kemorosotan dan krisis kepercayaan. Masyarakat bisa
saja melarang anaknya untuk tidak melanjutkan jenjang pendidikan mereka. Kalo
sudah gini yang repot siapa ? mau nyalahi Jokowi lagi ? Mau nanti ada gerakan
#2019antikuliah ?
Khusus d kampusku yang sepertinya pendidikan agama perlu kembali di
gulirkan ke tingkat dosen. Praktek Ibadah, Tilawah, dan Thfidz harus menyentuh ke
level dosen hingga rektorat. supaya jadi pengerem hawa nafsu, gak kaya si Bapak
Blong terus! semacam mengadakan testing bagi dosen, agar akurasi penilaian
dosen terhadap tugas mahasiswa gak melulu di ukur dari kedekatan emosional
apalagi dari lekukan tubuh, ya ga Pak ?
Semua ini saya tulis atas dasar
sayang dan cinta, agar tak ada lagi jeritan tanpa suara, supaya tak terjadi
pengangguran masal dengan gelar Prof atau Master, saya hanya belajar
menyuarakan aspirasi lewat tulisan di tengah “aktivis” yang tertidur pulas.
Bandung, 19 November 2018

Asgard adalah slot online yang dibuat oleh Pragmatic Play yang memiliki 25 paylines. Permainan ini menawarkan hingga 200X kemenangan pada setiap putaran dan ada empat fitur putaran bebas yang berbeda. Ada juga fitur mini yang dipicu secara acak selama permainan dasar.
ReplyDeleteUntuk Info Review Selanjutnya bisa KLIK ====>Slot Asgard