Posts

MENCARI PASRAH

Image
Terik matahari bertubi-tubi menyentuh ubun-ubun, saking panasnya hingga aku harus meletakan kain basah diatas kepala. Matahari seolah benci dengan aktivitas di bumi, makin hari makin tahun ia semakin menjadi-menjadi, berkolaborasi dengan debu matahari membakar apa saja yang kiranya membuat ia kesal. Begitu pula aku, dengan gagah berani mencoba bertarung dalam ramai dalam gelombang manusia yang kian hari kian gila dengan dunia dan membuat jengah matahari. Di persimpangan Kota orang-orang terjaga, hilir mudik tanpa suara. Aku tak pernah medengar kata-kata hanya suara sepatu yang riuh semkin hari semakin gaduh. Persimpangan Kota adalah saksi dimana para pemuda seperti bermimpi menaklukan matahari, lalu bersenang-senang dengan hasil dari pada itu. Persimpangan Kota menjadi saksi dimana kalimat “Maaf” menjadi paling sering dibayangkan, bahkan bagiku itu adalah hantu yang paling menyeramkan dari pada panasnya matahari. “Mohon Maaf mas,” suaranya lirih   seorang wanita sambil me...

FANATISME UGAL-UGALAN

Image
Aksi persekusi dikalangan pencinta sepakbola atau yang sering disebut Supporter kini marak terjadi. Bak wabah penyakit dari musim ke musim. Rivalitas dan fanatisme adalah dua komponen besar yang mendukung perlakuan biadab ini, apalagi kalo sampai meregang nyawa. Masih hangat diingatan kematian Rangga Cipta Nugraha (2012), Ricko Andrean (2017) yang akhrinya tewas karena “kecintaan” terhadap klub kesayangan. Kematian   Rangga dan Ricko menjadi pemberitaan hangat kala itu, membanjiri media sosial dan kanal youtube . Duka dan rasa kehilangan bertebaran dimana-mana begitu juga dengan dendam dan semangat melakukan aksi balasan pun ikut berterbangan. Rangga dan Ricko adalah korban fanatisme buta saat menyaksikan laga klasik Persib vs Persija. 19 Tahun konflik terpelihara dalam kotak Pandora, dijaga ketat dengan penagaman ekstra berwajah intoleran. Rekor pertemuan kedua klub besar ini sejak tahun 2012 hingga 2018 sudah menelan korban jiwa sebanyak 7 orang, jumlah yang tak sedikit b...

UNTUK YANG MENJADI PUI

Kutulis surat ini untukmu,  saat hati terbelah tak menemukan lagi rasa. Mata-mata banyak bertanya. Berkarat setiap indra kita, berkarat pula nafas kita memahami cinta. Kita harus kembali jujur, merajut kembali apa yang retak. Kita menulis usia dengan darah, menipu setiap kesaksian dengan nanah. Lalu kemerdekaan kita siapa yang mengantarkan? Wajah-wajah basah Rambut-rambut basah Sukma kita perlu diselamatkan, karena lihatlah saudaraku : Makhluk Tuhan lainnya menunggu dicintai. Inilah janji. Inilah Khotbah. Gelap dan berat. Karena kehidupan mengurai kesengsaraan yang tak terhitung jumlahnya. Tetapi sayang, kita tak mampu menambal luka-duka. Kita hanya kosong, menyaksikan waktu melakukan tugasnya tanpa kesalahan. Lipat lagi pisau yang penuh misteri. Gantilah dengan sesuatu yang lebih halus, sebab rencana hanya membuat kita terjaga dari puisi ini menuju puisi lainnya saudaraku. Resapilah sebentar aroma pengkhianatan. Tutuplah mata, maka kebijaksanaan itu benar adanya, kebaikan...

PEMAPASAN CURUG OMPONG APAKAH SOLUSI ?

Pernyataan Bupati Bandung mengenai usulan pemapasan Curug Jompong untuk mengatasi banjir di Cekungan Bandung khususnya di wilayah kabupaten Bandung dalam patut dipertimbangkan untuk dilakukan. Hal tersebut timbul ketika Curug Jompong dianggap sumber masalah dari musibah banir tahunan di Kabupaten Bandung. Padahal permasalahan banjir yang semakin meluas di beberapa wilayah di Kabupaten Bandung terjadi karena kebijakan tata ruang kabupaten Bandung yang bermasalah atau terjadi salah urus kelola ruang wilayah Kabupaten Bandung. Jika diamati selain faktor alamiah curah hujan yang tinggi di musim penghukan, meluasnya bencana ekologi banjir justru disebabkan oleh alih fungsi lahan-lahan produktif dan resapan air semakin massif, berubah menjadi industri, pemukiman/perumahan, penyempitan dan pendangkalan anak-anak sungai di Sub DAS Citarum diantaranya sungai Ciwidey, Cisangkuy, Citepus, Cikapundung, Cikeruh dan sungai lain-lain. Namun entah bagaimana pemerintah melihat persoalan banjir, s...

PUISI RINDU

Aku telah mengenalmu menghadapi sepi dan jalan penuh duri Karena rindu itu mencekik, dan yang tercekik saling memahami Anak panah yang kau tiup tak jelas mengarah pada siapa Madu yang kau tebar meracuni siapa saja Lukamu telah menjadi bara, menjelma api bagi yang mendekati Jika aku rindu, maka sejatinya sajak ini membisu dan tak menemukan makna menyusuri kemerdekaanmu Solo, 10-12-2016

NYANYIAN DIKAMAR REMANG-REMANG

Kipas angin berputar di kamar remang-remang Keringat menjadi kecut beradu dalam asmara Ya, nasib-nasib ditelanjangi tiap hari Dipeluk bergantian, diagauli berkali-kali Dan keringat menjadi lebih kecut dari atlit balap lari Haru biru kelabu Senyum genit palsu Jeritan tertahan kalung berlian Ketakutan ndimnfaatkan Apalah artinya menyesal ? ketika mulut sanak saudara kering menganga Apalah artinya menyerah ? ksaat melawan kau ditelanjangi pasrah Sudahkah putus asa melampaui segalanya ? Karena setelah menyesal dan menyerah ,waktu akan menuntutmu mendesah sebagai petanda Bergeliatlah sebagaimana mestinya sebab esok nasibmu ingin didengar Nusantara Wati.. Bicaralah dengan lantang bagaimana kisahmu saat menari di kantor Bupati Ceritakanlah saat mereka membanyol tentang reformasi dan kedua tangannya meremas payudaramu Kau dianggap alasan bagaimana   kehidupan bersama mesti dijaga, namun saat itu pula mereka secara berjama`ah memaksamu menyebut “iy...