MENCARI PASRAH
Terik matahari bertubi-tubi menyentuh ubun-ubun, saking panasnya hingga aku harus meletakan kain basah diatas kepala. Matahari seolah benci dengan aktivitas di bumi, makin hari makin tahun ia semakin menjadi-menjadi, berkolaborasi dengan debu matahari membakar apa saja yang kiranya membuat ia kesal. Begitu pula aku, dengan gagah berani mencoba bertarung dalam ramai dalam gelombang manusia yang kian hari kian gila dengan dunia dan membuat jengah matahari. Di persimpangan Kota orang-orang terjaga, hilir mudik tanpa suara. Aku tak pernah medengar kata-kata hanya suara sepatu yang riuh semkin hari semakin gaduh. Persimpangan Kota adalah saksi dimana para pemuda seperti bermimpi menaklukan matahari, lalu bersenang-senang dengan hasil dari pada itu. Persimpangan Kota menjadi saksi dimana kalimat “Maaf” menjadi paling sering dibayangkan, bahkan bagiku itu adalah hantu yang paling menyeramkan dari pada panasnya matahari. “Mohon Maaf mas,” suaranya lirih seorang wanita sambil me...