Posts

HIMBAUAN AJA

Image
Pagi ini kegelisahaan menggila di dadaku, macam roh halus yang mencoba mencari tubuh untuk menyampaikan pesannya. Kegelisahan ini bukan tentang menunggu sesuatu, tapi bagaimana dan di mana menemukan cara mensiasati diri untuk lebih konsisten berdamai kata “kangen”. Sungguh keadaan inimembuatku tak menemukan cara mencairkan rindu yang membatu. Kegelisahan ini mendorongku pada pikiran yang sunyi. “Mati kau di koyak-koyak sepi…” begitu kata Chairil Anwar. Awalnya biasa saja yang tadinya hanya membara di dada, kini mulai menjalar ke atas kepala. Lengkap dengan ratusan tanda tanya, pelan-pelan gelisah ini merayap. Tak ada suara, seperi Rambo yang menyelinap di marakas Vitkong di malam hari. Ah, sungguh pagi yang membuatku nyeri. Tapi semuanya menjadi gaduh, ketika Bapak menjawab pertanyaan tetangga tentang keberadaan Ibu. “Ibu ke mana Pak ? sudah kembai ke Bekasi ?” “Alhamdulilah sudah, kemarin di jemput travel, berangkat dari rumah si Teteh, biar gampang sopirnya ca...

TUNAS ITU AKU...

Image
Setelah makan malam yang romantis bersama kekasihku , dan kepulangannya membawa kesan yang mengakar dalam ingatan. Aku tersadar bahwa telah  kehilangan tokoh yang ingin kutulis dalam tulisanku, entah cerpen, puisi atau naskah lainnya. Tokoh yang sangat lihai membuatku lupa, ketika aku memikirkan dia a kan berperan sebagai apa, saat itu juga dia selalu menemukan cara untuk lompat dari niatku untu k menuliskannya. Kucari ia ditumpukan buku, satu persatu-satu setiap buku kubuka. Kalimat yang sudah kutandai denga n bolpint tak satu pun memberiikan petunjuk alamat di mana dia tinggal. Bahasa ilmiah yang kutemukan, juga tak satupun memberikan pemahaman ilmu yang dia pakai dan di mana dia mengenyam pendidikan. Bahkan, novel yang ikut menjadi sasaran pelacakanku, tak satupun tokoh-tokohnya yang mengaku pernah berjumpa dengan dia. Kemudian pencarian, kulanjutkan di file-file yang tersimpan di laptopku. Dari ratusan naskah yang ada, tak sedikitpun kucium aroma tubuhnya. Puisi...

PADAMU PANDEMI (sebuah kebingungan sekaligus mencoba mendefinisikan puisi yang saya buat dengan judul yang sama)

Image
Pandemi Covid 19 atau virus Corona telah membawa banyak cerita, bukan hanya kabar duka yang lalu lalang di televisi dan surat kabar saja. Luka dalam mesti ditanggung orang-orang yang kalah dalam soal ekonomi. Ada yang bilang Pandemi ini seperti marah Bumi, yang selama jutaan tahun harus terus menerima luka di tubuhnya karena ulah manusia, boleh jadi benar dengan jutaan fakta kerusakan bumi yang tiap hari jadi penghias gendang telinga dan memori retina. Ada juga yang bilang, Pandemi ini adalah buah dari persetruan dua Negara Adidaya, anatara Paman Sam melawan Paman Ahjong, saling lempar tudingan dengan berbasis data intelijen, masing-masing kubu membuat kubu di jagat media sosial, ini sangat berdampak, terutama di jari-jari para netizen tanah air. Seperti peristiwa 10 November, netizen tanah air merubah media sosial menjadi medan perang antara kaum agamis anti komunis dan kaum nasionalis, ama seperti saat pesta demokrasi tahun lalu. Bedanya, saat itu sebutan hewan lebih pantas...

Menunggu Ratu Adil di Pemakaman KPK

Image
“Di mana Jokowi hari ini ?” Pertanyaan itu mewakili pikiran saya ketika mendengar revisi UU KPK yang beberapa poin di sah kan pemerintah pusat. Wajar saja perhatian masyarakat sedang tajam pada pemenang Pilpres 2019 ini. Harapan publik benar-benar ada di pilihan dan sikap Jokowi, akankah beliau memberikan akses pelemahan KPK atau 'berani' menghentikan upaya pelemahan ini. Revisi ini mematahkan sendi-sendi juga otot komisi antirasuah sebab secara aturan dan konstitusi hanya Jokowi yang dapat menghentikannya. Poin-poin krusial dalam revisi UU tersebut benar-benar membuat lumpuh lembaga ini. Diantaranya, pegawai KPK akan menjadi aparatur sipil negara, bukan lagi entitas independen yang terpisah dari eksekutif. Dengan poin tersebut, akhirnya lembaga penjaga moral bangsa ini harus tunduk pada struktur birokrasi. Hak hidup KPK kini diombang ambing pemangku kebijakan yang akrab di sebut Dewan Perwakilan Rakyat. Ironis ! di saat rakyat dituntut untuk memperbaiki moral dan berkamp...

Tuntaskan Masalah Papua !

Image
Kejadian yang menyoroti kemanusiaan di tanah air kembali mencuat. Persekusi dan diskriminasi yang dialami mahasiswa Asal Papua di Kota Malang dan Surabaya lalu tak bisa dibela dan dibenarkan dengan cara apa pun. Proses hukum para pelaku harus terbuka dan seadil-adilnya, penanganan tegas tidak hanya untuk meredam kemarahan orang Papua tapi juga upaya menimbulkan efek jera. Di Indonesia konstitusi jelas 'membadani' hak dan kesetaraan semua warga negara tanpa terkecuali. Perbedaan suku, agama, ras dan identitas yang lain merupakan sebuah keniscayaan sebagai warga negara yang beragam. Aparat selaku alat negara seharusnya melindungi mahasiswa Papua ketika kejadian berlangsung, namun sayang jejak digital tak bisa dihapus. Dalam video yang beredar juga banyak kesaksian, aparat terkesan membiarkan peristiwa itu terjadi, hingga berimbas pada stabilitas keamanan beberapa kota di Papua. Lebih dari itu, beredar pula sebuah rekaman yang memperlihatkan aparat yang justru ikut meneriaki m...

Jangan Sampai Sia-sia Jendral !

Image
Pilpres 2019 telah mengukir sejarah bangsa, tensi tinggi yang diwariskan keduanya akan diingat dan di kenang oleh generasi selanjutnya. Banyak peran yang terlibat dalam kontestasi 5 tahunan ini, dipantik sejak pilpres 2014, isu agama atau politik identitas menjadi bumbu dalam perjalanan pertarungan Jokowi dan Prabowo. Masyarakat terbelah menjadi ras binatang yaitu Cebong VS Kampret. Deligimatisi lembaga pemerintah pun hangat dihebuskan oleh salah satu kubu, hasilnya adalah massa dari salah satu kubu terus saja menyuarakan ketidakpercayaan terhadap kinerja pemerintah yang sah. Jauh sebelum 17 April isu ini sudah menjadi “tren”, bahkan indikasi “makar” mulai tercium setelah pemilihan umum 2019. Kalimat “People Power” yang dilemparkan tokoh PAN ke publik menjadi legitimasi massa pendukung 02 untuk turun kejalan pasca terpilihnya Jokowi-Ma’ruf sebagai Presiden Republik Indonesia yang ditentukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) 22 Mei lalu. Bagi Jokowi ini merupakan kesempatan t...

Jangan Samakan Kita dengan si Tengku ! Plis..

Image
Saya pasti akan berkata kasar, bahkan melemparkan sesuatu berwarna kuning ke wajahnya (mau truck,beko, Golkar atau Berkarya sekalian. Pokoknya kuning, bau juga boleh kok). Entah karena salah makan atau terlalu banyak ngopi pagi dengan berita hoax dari lingkungannya, anda saya nilai B.U ( beunang uteuk) apapun alasannya, entah isi ceramah atau jubahnya anda wajib merasakan R.K.O dari saya di ring smackdown ! Ya, kiranya itu yang ingin saya sampaikan pada yang terhormat Tengku Zulkarnain seandainya saya sudah tak sanggup lagi menahan emosi. Alhamdulilah saat menulis ini saya dalam keadaan hati yang sejuk seperti haiking ke gunung, dengan senyum lebar selayaknya santri berzakat senyuman. Tulisan ini adalah bentuk kasih sayang sesama manusia dan karena rasa hormat saya kepada Tuanku Zulkarnain. Saya hanya tak habis pikir dengan pemikirannya ketika selesai menyaksikan perdebatan beliau dengan Jumisih, Ketua Federasi Buruh Lintas Pabrik. Menyoal Pro-Kontra RUU Penghapusan Keke...