HIMBAUAN AJA
Pagi ini kegelisahaan menggila di dadaku, macam roh halus yang mencoba mencari tubuh untuk menyampaikan pesannya. Kegelisahan ini bukan tentang menunggu sesuatu, tapi bagaimana dan di mana menemukan cara mensiasati diri untuk lebih konsisten berdamai kata “kangen”. Sungguh keadaan inimembuatku tak menemukan cara mencairkan rindu yang membatu. Kegelisahan ini mendorongku pada pikiran yang sunyi. “Mati kau di koyak-koyak sepi…” begitu kata Chairil Anwar. Awalnya biasa saja yang tadinya hanya membara di dada, kini mulai menjalar ke atas kepala. Lengkap dengan ratusan tanda tanya, pelan-pelan gelisah ini merayap. Tak ada suara, seperi Rambo yang menyelinap di marakas Vitkong di malam hari. Ah, sungguh pagi yang membuatku nyeri. Tapi semuanya menjadi gaduh, ketika Bapak menjawab pertanyaan tetangga tentang keberadaan Ibu. “Ibu ke mana Pak ? sudah kembai ke Bekasi ?” “Alhamdulilah sudah, kemarin di jemput travel, berangkat dari rumah si Teteh, biar gampang sopirnya ca...