Sayup-sayup mata yang sepi,mengiri langkah kaki.
Inilah kepergian..
Demi waktu dalam perjalanan.
Aku kabarkan..
Menghilang..
Sepi..
Kemelut tak bergeming..
Inilah kepergian..
Keinginan ada di batas kota, di luar jendela. Kemerdekaan di sela-selanya. Dan ketakutan tersimpan di embun pagi buta, aku menemukannya. Dengan cahaya, dengan nafas Dongeng tua habis dimakan serangga. Oh, dewi themis Aku menemui rindu dimatamu. Diantara jurang pemisah, Suara terbang tanpa arah Beberapa menerpa genting rumah. Aku lupa membersihkan jendela dan menembus batas di pinggir kota. Bandung, 20-07-2016
Aku telah mengenalmu menghadapi sepi dan jalan penuh duri Karena rindu itu mencekik, dan yang tercekik saling memahami Anak panah yang kau tiup tak jelas mengarah pada siapa Madu yang kau tebar meracuni siapa saja Lukamu telah menjadi bara, menjelma api bagi yang mendekati Jika aku rindu, maka sejatinya sajak ini membisu dan tak menemukan makna menyusuri kemerdekaanmu Solo, 10-12-2016
Apa yang aku pahami tentang kemerdekaan adalah kerinduanku mengalahkan kesepian. Sementara beberapa bintang berdiri di langit yang sama. Musim berlalu, beberapa tulisan hadir tanpa alasan, aku menghadirkanmu di waktu purnama. Kesadaranku bangun, lagi-lagi karena pribadi yang asing dengan sendiri. Jenguklah aku kali ini. Dengan doa aku memelukmu, dengan keadaan aku memanggilmu, dan melalui puisi aku mempertaruhkan rinduku. Di waktu yang sama, aku meretas batas. Membangun jalan dan menuntunmu mengenal kemanusiaan. Lalu lalang takdir kita, di penghujung nafas usia. Apa yang aku lewatkan di hari ini kasih? Bandung,30-07-2016
Comments
Post a Comment