MERDEKA



Aku masih menidur pena.
Masih pula berdebat dengan rasa.
Apalagi kita punya?
Sementara barisan hanya mempersempit bidikan.


Ada yang harus dibangunkan sekalipun itu raksasa.
Disini kita makan bangkai sesama.
Melihat harga diri dilacurkan dan tujuan terbayar uang,
Dan beberapa cinta tenggelam dalam kotornya pakaian.

Kita mesti telanjang dan terdiam dalam sepi.
Berkaca pada kondisi,  sejak kepala desa memakan warganya.


Kita mesti berdoa, berpuisi sambil semedi, karena bisa jadi diam adalah solusi.
Semenjak para pendahulu berbicara tentang konsep, maka pada saat itu pula merdeka hanya padi yang gagal panen.
Aku masih cinta pada pena, dan waktu berkelana seperti pemburu.
Lalu kenapa malaikat bisu?
Aku merakit puisi dingin, sebuah keinginan tertutup salju.
Puncak gunung es meleleh sejak proklamasi berkumandang.

Sajak ini sajak merdeka, terbang bebas menuju utara.
Mencari kiblat kebenaran, keutuhan dalam sepi, kesejatian diri.


Aku mesti menjadi dermaga, dimana berlabuhlah harapan dan daya juang.
Nusantara adalah cerita yang menarik.

Aku mesti menjadi seruan,  dalam lantang kemerdekaan.
Aku mesti jadi lingkaran, dalam cinta dan kasih sayang.


Bandung, 15-08-2016
#merdekalahkemerdekaan

Comments

Popular posts from this blog

MENEMUI BATAS

KEMERDEKAAN ALA ADDY GEMBEL FORGOTTEN

PUISI RINDU